MATERI

SEJARAH PONDOK PESANTREN MIFTAHUL HUDA GADING MALANG

Oleh : Fatkhur Roji, S.Pd


Sejarah Pondok Pesantren Mifatahul Huda Gading Malang.

Kedatangan islam di Indonesia telah banyak memberi pengaruh dalam berbagai aspek kehidupan masyarakatnya. Khususnya di Jawa yang mempunyai banyak sejarah dan kebudayaan yang mengakar. Hal itu bisa berupa budaya, kesenian, ritual, dan pendidikan. Menurut Rahardjo (1985:3) bahwa pondok adalah hasil penyerapan akulturasi dari masyarakat Indonesia terhadap kebudayaan Hindu-Budha dan Kebudayaan Islam yang kemudian menjelmakan suatu lembaga yang lain dengan warna Indonesia. Lembaga pendidikan  memberikan warna tersendiri bagi sejarah islam di jawa terutama melalui kebudayaan Islam, karena dengan media pendidikan ajaran Islam dengan tujuan disebarluaskan kepada masyarakat.  

Pondok Pesantren bagi para santri merupakan salah satu tempat untuk menimba ilmu agama. Keberadaan pesantren di Indonesia dimulai sejak Islam masuk di negeri ini dengan sistem pendidikan keagamaan yang sebenarnya telah lama berkembang sebelum kedatangan Islam. Sebagai lembaga pendidikan yang telah lama di negeri ini, pondok pesantren diakui memiliki pengaruh positif yang besar terhadap perjalanan sejarah bangsa Indonesia. 

Pondok Pesantren Miftahul Huda, orang sering menyebutnya dengan “Pondok Gading” berdiri hampir dua setengah abad yang lalu, tepatnya pada tahun 1768. Didirikan oleh Kyai Munadi yang berusia mencapai 125 tahun, sekaligus sebagai pengasuh pondok yang pertama kali selama hampir 90 tahun. Ketika Kyai Munadi wafat, pesantren diteruskan oleh putra beliau, yaitu KH. Ismail. Sebagai generasi kedua, Kyai Ismail mengasuh kurang lebih selama 50 tahun. Pada Usia 75 tahun beliau wafat. Karena Kyai Ismail tidak mempunyai putra, maka pengelolaan pesantren dilanjutkan oleh menantu beliau yaitu Kyai Yahya.

Pergantian dari Kyai Ismail kepada Kyai Yahya berhasil dengan baik. Di satu sisi Kyai Yahya mampu menjaga dan mempertahankan sistem dan nilai khas pondok pondok Gading yang selama ini di-uggem (dipegang teguh) oleh para pendiri pondok. Keberhasilan Kyai Yahya meneruskan dan mempertahankan kharisma pondok Gading antara lain disebabkan Kyai Yahya lebih suka menggunakan pendekatan keilmuan dan akhlaqul karimah dalam menyelesaikan permasalahan. Cara ini ternyata cukup berhasil, karena dengan kharisma dan ilmu akhlaq itu, beliau mampu mengurangi terjadinya kekerasan, baik antar masyarakat maupun antar santri dengan masyarakat di luar pondok.

Amanat perjuangan Pondok Gading saat ini dipegang oleh putra putri  Kiai Yahya dan Ibu Nyai Siti Chodijah Yahya, bahkan beberapa putra-putri beliau mengembangkan dakwah di luar wilayah Gading, berikut 11 orang putra-putri Kiai Yahya dan Ibu Nyai Siti Chodijah Yahya:

1.      Kiai A. Dimyati Ayatullah Yahya (1936-1971), meninggal 40 hari sebelum Kiai Yahya wafat dengan meninggalkan seorang putri. Kiai Dimyati adalah putera yang tertua.

2.      K.H. Abdul Adzim Aminullah Yahya (Lahir 1938, Wafat 2003). Beliau mendirikan PP. Manba’ul Huda di Desa Girimoyo, Kec. Karangploso, Kab. Malang.

3.      Gus Abdullah (Lahir 1940), meninggal waktu kecil.

4.      K.H. Abdur Rochim Amrullah Yahya (Lahir 1942, Wafat 2010), merupakan pengasuh generasi IV PP. Miftahul Huda. Sebagai penerus Kiai Yahya, beliau bersama saudaranya bertekad melestarikan apa yang telah dirintis dan ditetapkan oleh Kiai Yahya.

5.      K.H. Abdur Rohman Yahya (Lahir 1945), bersama K.H. Ahmad Arif Yahya mengasuh PP. Miftahul Huda dan secara istiqomah memberikan pengajian kitab kuning kepada para santri tiap harinya. Sekaligus beliau mengemban menjadi pimpinan rois syuriah idaroh thariqat Qodiriyah Wannaqsabandiyah kabupaten Malang.

6.      K.H. Ahmad Arif Yahya (Lahir 1948), saat ini menjabat sebagai kepala Madrasah Diniyah di PP. Miftahul Huda. Bersama beberapa ustadz, beliau mengelola Madrasah Diniyah dengan sistem salafiyah klasikal sejak tahun 1978 dan diberi nama Madrasah Diniyah Salafiyah Matholi’ul Huda. Madrasah ini terdiri dari tiga jenjang pendidikan, yaitu ula, wustho, dan ulya.

7.      Nyai Hj. Khodijah binti Yahya (Lahir 1950), bersama suami beliau K.H. M. Muchtar (alm) dan keluarga, mengasuh santri di PP. Manabi’ul Huda, Tumpukrenteng, Turen, Kabupaten Malang.

8.      K.H. Muhammad Ghazali Yahya (Lahir 1952), beliau sedang merintis dan mengembangkan pondok pesantren di Karangploso, Malang.

9.      Nyai Hj. Fatimah binti Yahya (Lahir 1955), bersama suami K.H. Ubaidillah (alm) dan keluarga mengasuh PP. Hidayatul Mubtadi’in di Dawuan, Malang.

10.      Nyai Hj. Maryam Mashfiyah binti Yahya (Lahir 1958), kini meneruskan ibunda Almarhumah Nyai. Hj. Khodijah Yahya dalam mengasuh santri putri di PP. Miftahul Huda. Suami beliau K.H. Moch. Baidowi Muslich, menjabat sebagai Kepala Pondok Pesantren Miftahul Huda. Dan juga beliau sekaligus mengemban sebagai pimpinan ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) Malang.

11.      Nyai Hj. Dewi Aisyah binti Yahya (Lahir 1962), bersama kakaknya beliau meneruskan ibunda Almarhumah Nyai. Hj. Khodijah Yahya dalam mengasuh santri putri di PP. Miftahul Huda. Suami beliau K.H. Drs. H.M. Shohibul Kahfi, M.Pd menjabat sebagai Wakil Kepala Pondok Pesantren Miftahul Huda.

 

2.2 Sistem pendidikan dan kitab-kitabnya di Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang Pada Tahun 1945-2015.

Kehadiran pesantren tidak dapat dipisahkan dari tuntutan umat. Karena itu, pesantren sebagai lembaga pendidikan selalu menjaga hubungan yang harmonis dengan masyarakat di sekitarnya sehingga keberadaannya di tengah-tengah masyarakat tidak menjadi terasing. Dalam waktu yang sama segala aktivitasnya pun mendapat dukungan dan apresiasi penuh dari masyarakat sekitarnya. Semuanya memberi penilaian bahwa kehadiran pesantren membawa dampak yang positif dan itu secara terus-menerus harus di pertahankan.

A). Sistem pendidikan Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang.

Pada saat ini, madrasah membutuhkan 10 ruang kelas, yang terdiri dari; 4 ruang kelas tingkat Ula, 3 ruang kelas tingkat Wustho dan 3 ruang kelas tingkat Ulya. Kegiatan Madrasah yang diselenggarakan oleh PPMH adalah Madrasah Diniyah Salafiyah Matholiul Huda (MMH) terdiri atas. Adapun tingkatannya adalah sebagai berikut :

I. Tingkat Ula (Pendidikan Tingkat Dasar)

Terdiri dari empat tingkat (kelas) dengan menitikberatkan pada pelajaran dasar- dasar keislaman, antara lain:

1. Membaca al-Qur’an, Fasholatan.

2. Imla’/ menulis arab, Tajwid(Tuhfatul Athfal), fiqih (Safinatun Najah jawa), Sejarah (Khulashoh Nurul Yaqin)

3. Tajwid (Jazariyah), Fiqih (Safinatun Najah), Tauhid (Aqidatul Awam), Sharaf (al-Amtsilatu at-Tashrifiyyah), Praktek membaca Al-Qur’an (Juz A’mma)

4. Fiqih (Sullamutaufiq), Tauhid (Bad’ul Amali), Sharaf (al- Amtsilatu at-Tashrifiyyah), Nahwu (Jurumiyah).

II. Tingkat Wustho (Pendidikan Tingkat Menengah)

Tingkat ini merupakan lanjutan dari tingkat Ula yang terdiri dari tiga tingkat (kelas) dengan menitikberatkan pada pendalaman Ilmu Alat. Pelajaran yang dikaji meliputi :

1. Nahwu (Imrithi I), Sharaf (Kailani), Fiqih (Fathul Qorib I), Tafsir (al-Jalalain), Hadits (Bulughul Maram I), Bahasa Arab (Al Arabiyah I)

2. Nahwu (Imrithi II), I’rob (Qowaidul I’rob), Fiqih (Fathul Qorib II), Tafsir (al-Jalalain II), Hadits (Bulughul Maram II), Bahasa Arab (Al Arabiyah II)

3. Nahwu (Fathu Robbil Bariyyah), Balaghoh (Qowaidul Lughoh Al Arabiyyah), Fiqih (Syawir Fathul Qorib), Tafsir (al-Jalalain III), Hadits (Bulughul Maram III), Faraidh (Syarah Nadhom Ar Rohbiyyah).

III. Tingkat Ulya (Pendidikan Tingkat Atas)

Jenjang ini ditempuh selama tiga tahun dengan menitikberatkan pada pendalaman ilmu fiqih (syawir) dan Ilmu Hisab. Pelajaran yang dikaji meliputi :

1. Fiqih (Fathul Muin I), Ushul Fiqih (Al-Mabadiul Awwaliyah), Nahwu (Alfiyyah Ibnu Aqil), Tauhid (Ummul Barahin)

2. Fiqih (Fathul Muin II), Ushul Fiqih (Faraidhul Bahiyyah), Nahwu (Alfiyyah Ibnu Aqil), Ilmu Hadits (Manhaj Dzawin Nadhor), Tauhid (Ummul Barahin)

3. Fiqih (Fathul Muin III), Nahwu (Alfiyyah Ibnu Aqil), Ilmu Hisab (Sullamun Nayyiroin), Arudh (Mukhtar As-syafi), Balaghoh (Jauharul Maknun).

Pondok pesantren Miftahul huda ini atau yang sering dikenal pondok gading merupakan pondok salaf yang didalamnya ada sebuah program pendidikan madrasah diniyah yang wajib diikuti semua santri. Yang merupakan harapan dari pimpinan pondok pesantren yakni Kyai Abdurrahman Yahya, santri yang mondok disana ketika sudah keluar dari pondok ini diharapkan mampu dalam segala hal dan dapat menjawab semua tantangan dimasyarakat, artinya santri disini dituntut untuk bisa berhasil dalam pendidikannya dan dapat diandalkan.

Disamping ilmu-ilmu yang didapat dari pondok, santri pondok ini juga mengenyam pendidikan diluar pondok, karena santri dipondok tersebut mayoritas pelajar, baik dimulai dari tingkat SMP, MAN/SMA, sampai Mahasiswa dan sangat sedikit sekali santri yang asli mondok tanpa mengenyam pendidikan diluar pondok.

Melihat dari pemaparan yang kami utarakan diatas. tentunya, sudah seharusnya kualitas pondok tersebut harus lebih mampu menjamin para santrinya ketika sudah lulus dari pendidikan pondok pesantren dan mampu menjawab semua tantangan atau tuntutan masyrakat. Kenyataannya pada pendidikan madrasah diniyah matholi’ul huda pondok pesantren miftahul huda Malang, setelah kami melakukan survei dilapangan kami melihat masih banyak sekali hal-hal yang perlu ditingkatkan dalam mencetak santri yang berprestasi dan bisa diandalkan serta siap mengabdi dimasyarakat.

Sebagai lembaga pendidikan Islam, pesantren hanya mengajarkan agama, sedangkan kajian mata pelajarannya ialah kitab-kitab bahasa Arab (kitab kuning). Menurut Nizar (2008:287) pendidikan pesantren memiliki tiga sistem pengajaran, yaitu sistem sorogan, yang sering disebut sistem individual, sistem bandongan atau wetonan yang sering disebut kolektif dan sistem hafalan sering disebut sistem individual. Adapun sistem pendidikan sebuah pesantren ialah;

Sistem wetonan adalah suatu pendidikan dimana para santri mengikuti pelajaran dengan duduk disekelilingi kyai yang menerangkan pelajaran. Sekelompok santri menyimak, menerjemahkan, mengulas buku-buku Islam dalam bahasa Arab yang sering disebut “kitab kuning” dengan cepat. Kyai atau syaikh tidak begitu memerhatikan apakah seorang santri menangkap penjelasannya atau tidak. Santri-santri senior biasanya membantu tugas-tugas kyai atau syaikh. Mereka dipanggil ustad. Ustadz yang banyak pengalaman sering digelari kyai muda. Kyai muda atau ustad masih mendapat pendidikan dalam kelas yang disebut “kelas musyawarah”. Di kelas ini murid mempelajari sendiri kitab-kitab klasik berbahasa Arab (semacam diskusi). Ketika diskusi akan berakhir di adakan kesempatan untuk bertanya.  Pelajaran ini diberikan pada waktu-waktu tertentu, yaitu sebelum atau sesudah melaksanakan shalat fardhu.

1)      Sistem sorogan adalah suatu sistem dimana santri menghadap kyai seorang demi seorang dengan membawa kitab yang akan dipelajarinya. Sistem sorogan ini merupakan bagian yang paling sulit dari keseluruhan sistem pendidikan Islam tradisional, sebab sistem ini menuntut kesabaran, kerajinan, ketaatan dan disiplin pribadi santri.

2)      Sistem hafalan adalah suatu sistem pendidikan sebuah pesantren di mana para santri untuk belajar menghafal atau kalimat tertentu dari kitab yang dipelajarinya. Setelah santri selesai menghafal dari kitab-kitab, dengan  dilanjutkan untuk menghadap kyai seorang demi seorang.

B). Kitab-Kitab di Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang.

Pada masa lalu pengajaran kitab-kitab islam klasik, terutama karangan-karangan ulama yang menganut faham Syafi’iyah, merupakan satu-satunya  pengajaran formal yang diberikan dalam lingkungan pesantren. Tujuan utama pengajaran ini ialah untuk mendidik calon-calon ulama. Para santri yang tinggal di  pesantren untuk waktu jangka pendek (misalnya kurang dari satu tahun) dan tidak bercita-cita menjadi ulama, mempunyai tujuan untuk mencari pengalaman dalam hal pendalaman perasaan keagamaan. Kebiasaan semacam ini terlebih-lebih dijalani pada waktu bulan Ramadhan, sewaktu umat Islam diwajibkan berpuasa dan menambah amalan-amalan ibadah, antara lain shalat sunnah, membaca Al-Qur’an dan mengikuti pengajian.

Menurut Raharjdo (1985:7) mengenai kitab-kitab yang diajarkan di pondok pesantren dapat digolongkan menjadi 8 kelompok yakni;

1)      Nahwu dan Sharaf: Ilmu yang mengajarkan tentang cara berlatih menulis bahasa Arab.

2)      Fiqih:  Ilmu yang membahas tentang hukum-hukum (agama, atau syariat Islam)

3)      Aqidah: Ilmu yang bidang pokoknya mengajarkan tentang perilaku dan moral yang baik.

4)      Tasawuf: Ilmu yang mengajarkan etika yang baik dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan.

5)      Hadis: Ilmu yang membahas tentang kehidupan Rasulullah sehari-hari baik yang dilakukan berupa perkataan, perbuatan, dan kelakuan.

6)      Tauhid: Ilmu  dalam pokok pembahasannya adalah bahwa Tuhan itu satu.

7)      Tafsir: Ilmu yang pokok pembahasannya menafsirkan Al-Qur’an.

Cabang-cabang ilmu yang lain seperti ilmu tarikh, falak, qiraat, balaghah, dan lain-lain.

                                           

2.3  Fungsi dan peran pondok pesantren Miftahul Huda Gading Malang

Pondok pesantren di Indonesia dimulai sejak Islam masuk di negeri ini dengan sistem pendidikan keagamaan yang sebenarnya telah lama berkembang sebelum kedatangan Islam. Sebagai lembaga pendidikan yang telah lama di negeri ini, pondok pesantren diakui memiliki pengaruh dampak positif yang besar terhadap perjalanan sejarah bangsa Indonesia.  

Dengan adanya pondok pesantren secara garis besar telah ikut dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Adapaun Pondok Pesantren Miftahul Huda merupakan sebuah lembaga pendidikan keagamaan dengan nuansa salafiyah. Tujuan pendidikan Pondok Pesantren Miftahul Huda (PPMH) ialah :

1. PPMH mendidik dan membina serta menyiapkan insan yang sholeh dan sholihah, berilmu dan beramal, berakhlaq mulia penuh kedisiplinan, bertanggung jawab dan berkepribadian luhur dalam rangka membentuk jiwa taqwallah.

2. PPMH membentuk dan mengupayakan terwujudnya sistem masyarakat yang berdasarkan nilai-nilai ajaran islam sesuai dengan latar sosial budaya yang melingkupinya.

3. PPMH merencanakan mekanisme dakwah islam yang efektif, terpadu, sesuai dengan kondisi dan tetap mempertahankan warisan nilai yang sudah baik serta melakukan pembaharuan dan peningkatan efektifitas dakwah.

4. PPMH menggali dan menyajikan khazanah pemikiran Islam dalam rangka menyampaikan pemahaman keagamaan di tengah kehidupan masyarakat.

5. PPMH mendukung pelaksanaan program pemerintah yang tidak bertentangan dengan Islam dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, mewujudkan cita-cita luhur bangsa serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Menurut Dhofier (1982:21) tujuan pendidikan pesantren bukanlah untuk mengejar kepentingan kekuasaan, uang dan keagungan duniawi, tetapi ditanamkan kepada mereka bahwa belajar adalah semata-mata kewajiban dan pengabdian kepada Tuhan. Dalam sejarahnya, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang berbasis Islami. Kelebihan dari adanya lembaga pondok pesantren adalah untuk mencetak generasi muda dengan membentuk moral dan akhlak yang baik, sehingga hasilnya berbeda dengan pendidikan sekolah-sekolah biasa.

Dengan adanya tujuan diatas, para santri juga merupakan peserta didik di lembaga pendidikan pesantren diarahkan membiasakan diri untuk mengamalkan ajaran Islam. Seperti dalam melaksanakan shalat, berpakaian, makan, minum, sopan-santun dan lain sebagainya. Dalam sosial ibadah bukan hanya yang bersifat wajib yang harus dikerjakan namun juga ibadah yang bersifat anjuran ataupun sunnah. Seperti shalat malam (shalat tahajud), shalat dhuha, puasa senin dan kamis, dan lain-lain. Pembiasaan ini dilakukan agar para santri terbiasa mengamalkan ajaran Islam.

Di antara cita-cita pendidikan pondok pesantren adalah latihan untuk dapat berdiri sendiri dan membina generasi muda untuk membentengi dari sifat-sifat buruk dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Menurut Dhofier (1982:21) para kyai selalu menaruh perhatian dan mengembangkan watak para santrinya sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan dirinya. Santri-santri yang cerdas dan memiliki kelebihan kemampuan daripada yang lain diberi perhatian istimewa dan selalu didorong untuk terus mengembangkan dirinya.

Para santri juga di perhatikan tingkah laku moralnya secara teliti. Mereka diperlukan sebagai makhluk yang terhormat, sebagai titipan Tuhan. Kepandaian berpidato dan berdebat benar-benar dikembangkan. Para santri ditanamkan perasaan kewajiban dan tanggung jawab untuk melestarikan dan menyebarkan pengetahuan mereka tentang Islam kepada orang lain, mencurahkan waktu dan tenaga untuk belajar, terus menerus sepanjang hidup.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pondok pesantren merupakan salah satu jenis lembaga pendidikan Islam di Indonesia yang bersifat tradisional. Menurut Dhofier (1982:18) pondok adalah asrama-asrama para santri atau tempat tinggal yang dibuat dari bambu, atau berasal dari kata Arab fundug, yang berarti hotel atau asrama. Sebuah pesantren pada dasarnya adalah sebuah asrama pendidikan Islam tradisional dimana siswanya tinggal bersama dan belajar dibawah bimbingan yaitu seorang guru yang lebih dikenal dengan sebutan “Kyai”. Salah satu pondok yang telah mencetak dan membekali ilmu yang agamis adalah pondok pesantren Miftahul Huda Gading Malang. Mengenai pondok pesantren Miftahul Huda lebih jelas dan singkat adalah sebagai berikut:

(1).  Pondok Pesantren Miftahul Huda, orang sering menyebutnya dengan “Pondok Gading” berdiri hampir dua setengah abad yang lalu, tepatnya pada tahun 1768. Didirikan oleh Kyai Munadi yang berusia mencapai 125 tahun, sekaligus sebagai pengasuh pondok pesantren selama hampir 90 tahun. 

(2). Sistem pendidikan pondok pesantren Miftahul Huda adalah sistem sorogan, sistem bandongan atau wetonan, sistem hafalan, dan juga sistem syawir (musyawarah atau tanya jawab).

(3). Peran dan fungsi pondok pesantren Miftahul Huda Gading Malang salah satunya adalah mendidik dan juga membina serta menyiapkan insan yang sholeh dan sholihah, berilmu dan beramal, berakhlak mulia dan berkepribadian luhur dalam rangka membentuk jiwa taqwallah. Disamping itu juga dibekali ilmu-ilmu agama yang nantinya sebagai bekal hidup ketika bermasyarakat.   

3.2 Saran

Dengan adanya lembaga pendidikan pondok pesantren di Indonesia, maka sebaiknya generasi muda untuk lebih senantiasa mewujudkan saling menghargai sesama umat muslim. Hal yang terpenting juga bagi santri-santri harus menjaga nilai-nilai baik yang telah mengakar kuat dari pondok pesantren tradisional untuk tetap selalu menjaganya.                                                                                                                                 

Lampiran:

Hasil Pengamatan Dan Wawancara Peneliti Terhadap Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang.

Hasil Wawancara:    

Identitas Responden:

I. Nama                       : Adam Yahya

    Asal                          : Blitar

    Usia                          : 22 tahun   

    Jenjang Pendidikan : S1 Pendidikan Fisika

    Lama di Pondok      : 3 tahun

    Jabatan di Pondok   : Pengurus Pondok (Wakil Ketua Komplek/Bilik)

                              

1).  Sejak kapan berdirinya pondok pesantren Miftahul Huda Gading Malang?

Narasumber : Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang mulai berdiri sejak tepatnya pada tahun 1768.

2). Siapakah pendiri utama pondok pesantren Miftahul Huda Gading Malang?

Narasumber : Pondok pesantren Miftahul Huda Gading Malang didirikan oleh Kyai Munadi yang berusia 125 tahun, sekaligus sebagai pengasuh hampir 90 tahun, dan akhirnya wafat.

3).  Setelah Kyai Munadi wafat, siapakah yang meneruskan/mengasuh pondok pesantren Miftahul Huda Gading Malang?

Narasumber : Ketika Kyai Munadi wafat, pesantren diteruskan oleh putera tertua beliau, yaitu Kyai Ismail. Beliau mengasuh kurang lebih 50 tahun. Pada usia 75 wafat. Karena Kyai Ismail tidak mempunyai putera, maka pengelolaan pesantren dilanjutkan oleh menantu beliau, yaitu Kyai Yahya.

4). Apakah dengan adanya pergantian pengasuh berjalan dengan baik?

Narasumber : Pergantian dari Kyai Ismail kepada Kyai Yahya berhasil berjalan dengan baik. Di satu sisi Kyai Yahya mampu menjaga dan mempertahankan sistem dan nilai khas pondok Gading yang selama ini di pegang teguh oleh para pendiri.

5) Apakah yang menjadi ciri khas pondok pesantren Miftahul Huda Gading Malang?

Narasumber : Sejak didirikan dan dipimpin oleh Kyai Ismail, Pondok Gading beserta pengasuhnya terkenal dengan kharisma dan ilmu tasawuf. Kharisma  pondok Gading dipertahankan dan diteruskan antara lain Kyai Yahya lebih suka menggunakan pendekatan keilmuan dan akhlaqul karimah dalam menyelesaikan permasalahan.  

6).  Siapa sajakah yang telah  mengasuh pondok pesantren Miftahul Huda Gading Malang?

Narasumber : Adapun pengasuh pondok pesantren Mifathul Huda Gading Malang adalah sebagai berikut:

KH. Hasan Munadi (1768 - 1858)

KH. Isma'il (1858 - 1908)

KH. Moh. Yahya (1908 - 23 November 1971)

KH. Abdurrohim Amrullah Yahya (1971 - 2010)

KH. Abdurrahman Yahya

KH. Ahmad Arief Yahya.

KH. Muhammad Baidlowi Muslich

Ust. Drs. HM. Shohibul Kahfi, M.Pd.

Ibu Nyai Dewi Aisyah (Pesantren Putri)

 

II. Nama                      : Choirul Anam

    Asal                          : Malang

    Usia                          : 26 tahun   

    Jenjang Pendidikan : S2 Pendidikan Administrasi dan Perkantoran.

    Lama di Pondok      : 3 tahun

    Jabatan di Pondok   : Pengurus PPMH

1). Bagaimanakah sistem pendidikan di pondok pesantren Miftahul Huda?

Narasumber :  Adapun sistem pendidikan yang diterapkan di pondok pesantren Miftahul Huda adalah adalah sistem sorogan, sistem bandongan/wetonan, hafalan, dan juga sistem syawir (musyawarah/tanya jawab). 

2) Bagaimana tingkatan-tingkatan dalam sistem pembelajaran di pondok pesantren Miftahul Huda?

Narasumber: adapun tingkatan-tingkatan kelas dalam pemebelajaran di pondok pesantren Miftahul Huda adalah sebagai berikut:

I. Tingkat Ula (Pendidikan Tingkat Dasar)

Terdiri dari empat tingkat (kelas) dengan menitikberatkan pada pelajaran dasar- dasar keislaman.

II. Tingkat Wustho (Pendidikan Tingkat Menengah)

Tingkat ini merupakan lanjutan dari tingkat Ula yang terdiri dari tiga tingkat (kelas) dengan menitikberatkan pada pendalaman Ilmu Alat.

III. Tingkat Ulya (Pendidikan Tingkat Atas)

Jenjang ini ditempuh selama tiga tahun dengan menitikberatkan pada pendalaman ilmu fiqih (syawir) dan Ilmu Hisab.

                  

III. Nama                      : Nurul Anwar

    Asal                          : Pasuruan

    Usia                          : 19 tahun   

    Jenjang Pendidikan : S1 Pendidikan Administrasi dan Perkantoran.

    Lama di Pondok      : 1 tahun

 

1). Sebutkan apa saja tujuan pendidikan pondok pesantren Miftahul Huda?

Narasumber: Tujuan pendidikan Pondok Pesantren Miftahul Huda (PPMH) ialah :

1. PPMH mendidik dan membina serta menyiapkan insan yang sholeh dan sholihah, berilmu dan beramal, berakhlaq mulia penuh kedisiplinan, bertanggung jawab dan berkepribadian luhur dalam rangka membentuk jiwa taqwallah.

2. PPMH membentuk dan mengupayakan terwujudnya sistem masyarakat yang berdasarkan nilai-nilai ajaran islam sesuai dengan latar sosial budaya yang melingkupinya.

3. PPMH merencanakan mekanisme dakwah islam yang efektif, terpadu, sesuai dengan kondisi dan tetap mempertahankan warisan nilai yang sudah baik serta melakukan pembaharuan dan peningkatan efektifitas dakwah.

4. PPMH menggali dan menyajikan khazanah pemikiran Islam dalam rangka menyampaikan pemahaman keagamaan di tengah kehidupan masyarakat.

5. PPMH mendukung pelaksanaan program pemerintah yang tidak bertentangan dengan Islam dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, mewujudkan cita-cita luhur bangsa serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Dhofier, Zamakhsyari. 1982. Tradisi Pesantren. Jakarta: LP3S.

Nizar, Samsul. 2008. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana.

 

Rahardjo, Dawam. 1985. Pergulatan Dunia Pesantren. Jakarta: Media Pratama Offset.

 

Rahman, A.H. 2010. Implementasi Sistem Pembelajaran Kitab Kuning di Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang. Skripsi UIN MALIKI Malang. Tidak diterbitkan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Lanjutan Bab 2 : Ilmu Sejarah