Sabtu, 18 Juli 2020

Makalah

SEJARAH KERAJAAN MALAKA

(Oleh: Fatkhur Roji, S.Pd)

 

Proses Masuk dan Perkembangan Agama Islam di Malaka.

A. Golongan Pembawa Agama Islam di Indonesia.

Islam masuk ke Indonesia akibat adanya perdagangan dan pelayaran internasional. Pada saat itu, jalur perdagangan internasional Timur Tengah-India-Malaka-Cina merupakan satu-satunya jalur perdagangan Asia yang sangat ramai. Bersamaan dengan kesibukan perdagangan antar bangsa yang melewati Indonesia itulah, Islam masuk ke Indonesia.

Gambar : Pusat perdagangan abad ke-15

Keterangan gambar di atas yaitu:

    I : Malaka                                                      IV : Demak

    II : Samudera Pasai                                         V : Banjar

    III : Banten                                                     VI : Makassar                 

 

Islam masuk ke Indonesia ketika sebagian masyarakatnya sudah memeluk agama Hindu atau Buddha, atau saat masyarakat masih memeluk kepercayaan asli, atau bahkan saat Hindu-Buddha, dan kepercayaan asli bercampur saling mempengaruhi. Namun yang jelas, Islam datang setelah Hindu dan Buddha masuk ke Indonesia terlebih dahulu. Penyebaran pengaruh Islam yang berasal dari jazirah Arab ke Asia dan benua lainnya, menimbulkan pusat-pusat agama Islam di kawasan tersebut, yang berperan sebagai pusat pemerintahan dan peradaban, juga berperan dalam penyebaran pengaruh Islam ke wilayah sekitarnya.

Sebagian  para ahli berpendapat bahwa kedatangan Islam pertama-tama ke Indonesia sudah sejak abad pertama Hijriyah atau abad ke-7 Masehi, dan sebagian para ahli berpendapat bahwa Islam baru datang pada abad ke-13 terutama kerajaan Samudra Pasai (Soedjono & Leirissa, 2010: 161).

Ahli-ahli yang berpendapat pada abad ke-7 M, terutama berdasarkan teorinya berdasarkan pada berita Cina dari zaman T’-ang yang menceritakan adanya orang-orang Ta-shih yang mengurungkan niatnya untuk menyerang kerajaan Ho-ling di bawah pemerintahan Ratu Sima (674), karena pemerintahan Ho-ling itu sangat keras. Sebutan “Ta-shih” dalam berita itu ditafsirkan sebagai orang-orang Arab.

Sebagian ahli berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 itu didasarkan pada dugaan akibat keruntuhan Dinasti Abbasiyah oleh Hulagu pada tahun 1258. Pendapat ini diperkuat oleh bukti berita Marco Polo pada tahun 1292, berita Ibn Battutah abad ke-14, serta nisan-nisan kubur Sultan Malik as Saleh tahun 1297. Di antara ahli-ahli itu ada juga yang berpendapat bahwa kedatangan Islam hingga terbentuknya masyarakat muslim di Indonesia pada abad ke-13 disebabkan oleh masa arus penyebaran dan kedatangan ajaran tasawuf.

Pendapat para ahli tentang negeri asal serta golongan-golongan masyarakat muslim yang memperkenalkan agama Islam kepada bangsa Indonesia itu juga berbeda-beda. Ahli-ahli yang memberikan tafsiran Ta-shih seperti dikatakan dalam berita Cina pada abad ke-7, adalah orang-orang Arab. Akan tetapi, sebagian ahli diantaranya C. Snouck Hurgronje berpendapat bahwa orang-orang Islam yang datang dan menyebarkan agamanya pertama-tama di Indonesia tidak langsung berasal dari negeri Arab. Mereka adalah orang-orang Islam dari Gujarat (India). Bukti-bukti hubungan langsung antara Indonesia dengan Arab baru terjadi kemudian, contohnya hubungan utusan dari Mataram dan Banten ke Mekkah pada pertengahan abad ke-17.

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut di atas jelaslah bahwa tidak mudah untuk memastikan bila dan dari mana pembawa pertama-tama Islam ke Indonesia antara abad ke-7 sampai abad ke-13 adalah orang muslim dari Arab, Persia, dan India (Gujarat, Benggala) (Soedjono & Leirissa, 2010: 164).    

 

B. Proses Masuknya dan Perkembangan Agama Islam di Malaka.

Agama Islam berkembang mengikuti jalur pelayaran dan perdagangan. Maka seiring dengan perkembangan agama Islam berkembang pula secara luas pelayaran dan perdagangan laut bangsa Indonesia. Jalur pelayaran dan perdagangan internasional yang sudah ada sejak kuno, antara Cina, Indonesia (Selat Malaka), India, Asia Barat dan sebaliknya kini kian bertambah ramai (Daliman, 2012: 6).

Gambar : Keadaan perdagangan dan pelayaran kerajaan Malaka.

Malaka dikenal sebagai pintu gerbang Nusantara. Sebutan ini diberikan mengingat peranannya sebagai jalan lalulintas bagi pedagang-pedagang asing yang berhak masuk dan keluar pelabuhan-pelabuhan Indonesia. Letak geografis Malaka sangat menguntungkan, yang menjadi jalan silang antara Asia Timur dan Asia Barat.

Dengan letak geografis yang demikian membuat Malaka menjadi kerajaan yang berpengaruh atas daerahnya. Setelah Malaka menjadi kerajaan Islam, para pedagang, mubaligh, dan guru sufi dari negeri Timur Tengah dan India makin ramai mendatangi kota Bandar Malaka. Dari bandar ini, Islam di bawa ke pattani dan tempat lainnya di semenanjung seperti Pahang, Johor dan perlak.

Pada tahun 1414, raja Muar yang bernama Parameswara dan beristrikan putri dari Pasai, atas bujukan sang permaisuri, masuk agama Islam dan bergelar Megat Iskandar Syah. Peristiwa tesebut memberikan dorongan yang terlalu kuat persebaran agama Islam di kalangan rakyat Malaka khususnya, dan di kalangan penduduk pedalaman Malaya pada umumnya. Para pedagang yang datang dari negara-negara di pantai Laut Selatan dan Tiongkok, serta para pedagang yang datang dari Indonesia, menyaksikan agam Islam berkembnag dan tumbuh sangat cepat di kota pelabuhan Malaka. Perkenalan mereka dengan agama Islam di Malaka sangat intensif. Kota pelabuhan Malaka menjadi kota dagang Islam di Asia Tenggara.

Sebagai kota dagang yang ramai di kunjungi oleh para pedagang asing, kota pelabuhan Malaka memberi kesempatan kepada para pedagang asing untuk membuka perwakilan dagang di kota Malaka. Dengan sendirinya, pedagang-pedagang yang membuka perwakilan dagang itu mengirim orang-orang tertentu untuk menetap di kota Malaka. Mereka, kecuali menjalankan dagang untuk memperoleh keuntungan, juga mengenal dari dekat cara hidup orang-orang muslim di Malaka. Yang mempunyai minat minat mendapat kesempatan untuk mempelajari agama Islam dan kemudian memeluknya.

Raja dan para pembesar Malaka suka agar saudagar-saudagar asing itu menetap di kota pelabuhan, karena kesejahteraan negara Malaka banyak bergantung pada perdagangan yang mereka lakukan. Adanya perwakilan dagang asing meningkatkan kegiatan dagang. Banyak diantara para anggota perwakilan dagang itu yang lalu kawin dengan wanita-wanita Islam Malaka, baik keturunan pembesar maupun keturunan para pedagang dan rakyat biasa.

Karena bujukan istri, tidak jarang pula di antara mereka yang melepaskan agama Hindu, masuk Islam. Akibatnya, banyak di antara mereka yang terus menetap di kota pelabuhan Malaka. Perkawinan dengan wanita-wanita Islam di Malaka kadang-kadang juga tidak sepi dari pamrih. Akibat perkawinan denga wanita-wanita Islam setempat, para anggota perwakilan dagang asing itu memperoleh fasilitas-fasilitas yang menguntungkan.

Parameswara pada hakikatnya adalah raja Malaka yang berjasa besar dalam kesejahteraan Malaka karena pembangunan bandar malaka, dan dalam penyebaran agama Islam madzhab Syafi’i, karena Parameswara adalah sultan pertama di Malaya yang memeluk agama Islam madzhab Syaf’i berkat perkawinanya dengan putri Pasai (Muljana, 2005: 149).  

            

        Gambar : Peta penyebaran Agama Islam.

 

 Kehidupan Masyarakat Kerajaan Malaka.

Sumber sejarah kerajaan Malaka tidak banyak memberikan informasi mengenai aspek-aspek kehidupan masyarakatnya. Namun beberapa aspek kehidupan masyarakatnya diceritakan dalam berita-berita Cina maupun temuan arkeologinya yang ditemukan.

·         Kehidupan Sosial

Kehidupan sosial Kerajaan Malaka dipengaruhi oleh faktor letak, keadaan alam dan lingkungan wilayahnya yang strategis. Sebagai masyarakat yang hidup dari dunia maritim, hubungan sosial masyarakatnya sangatlah kurang dan bahkan mereka cenderung mengarah ke sifat-sifat individualisme. Kelompok masyarakat pun bermunculan, seperti adanya golongan buruh dan majikan.

 

·         Kehidupan Ekonomi

Dalam kehidupan ekonomi masyarakat Malaka adalah melakukan pelayaran dan perdagangan. Seperti di jelaskan bahwa Malaka, pada akhir abad ke-15 dikunjungi  oleh para saudagar yang datang dari Arab, India, Asia Tenggara dan saudagar-saudagar Indonesia. Pada waktu itu daerah ini merupakan pusat perdagangan di Asia (Poesponegoro & Notosusanto, 1993:29).

Malaka memungut pajak penjualan, bea cukai barang-barang yang masuk dan keluar, yang banyak memasukkan uang ke kas negara. Sementara itu, raja maupun pejabat-pejabat penting memperoleh upeti atau persembahan dari pedagang yang dapat menjadikan mereka sangat kaya.

Sultan Alauddin Syah dikatakan mempunyai harta yang ditaksir sama dengan 140 kuintal emas (8.824 kg). Mansyur Syah, menurut perkiraan Tome’ Pires, memiliki 120 kuintal ditambah dengan sejumlah besar intan berlian dan ratna-mutu-manikam (Soedjono & Leirissa, 2010:121).

Hikayat-hikayat kuno memuji-muji kekayaan raja. Misalnya, pakaian raja katanya terdiri dari :

“... Serawal berantelas dengan air mas, berumbaikan mutiara dan permata merah, berkain ungu bertepi merah, berair mas dipahat, bersirat benang-mas, bertatah pudi menikam; ikat pinggang bersuji emas diragam dan berbaju antakesuma dan destar bertepi bunga sirih mas dipahat awan berarak...”

Suatu hal yang penting dari Kerajaan Malaka adalah adanya undang-undang laut yang berisi pengaturan pelayaran dan perdagangan di wilayah kerajaan. Untuk mempermudah terjalinnya komunikasi antar pedagang maka bahasa Melayu (Kwu-lun) dijadikan sebagai bahasa perantara.

 

·         Kehidupan Politik

Dalam menjalankan dan menyelenggarakan politik negara, ternyata para sultan menganut paham politik hidup berdampingan secara damai (co-existence policy) yang dijalankan secara efektif. Politik hidup berdampingan secara damai dilakukan melalui hubungan diplomatik dan ikatan perkawinan. Politik ini dilakukan untuk menjaga keamanan internal dan eksternal Malaka.

Dua kerajaan besar pada waktu itu yang harus diwaspadai adalah Cina dan Majapahit. Maka, Malaka kemudian menjalin hubungan damai dengan kedua kerajaan besar ini. Raja pertama kerajaan Malaka adalah Sultan Parameswara (Megat Iskandar Syah) (1402-1424). Ia  menjalankan politik bertetangga baik dengan kerajaan di sekitarnya. Ia menjalin hubungan dengan Cina dan Samudera Pasai. Hubungan dengan Samudera Pasai semakin erat sebab Sultan Parameswara menikah dengan kerajaan tersebut.

Setelah beliau wafat pada tahun 1424, digantikan Muhammad Syah (1424-1444). Untuk pertama kalinya, sultan Malaka yang beragama Islam mengambil gelar “Sri Maharaja”. Pemakaian gelar itu didasarkan atas pengakuan bahwa Muhammad Syah ialah keturunan Balaputradewa. Setelah pemerintahan Muhammad Syah berakhir, dilanjutkan oleh putra Sri Maharaja Muhammad Syah, yang lahir dari putri Rokan dia adalah Sultan Sri Parameswara Dewa Syah (1444-1446) dan tidak bertahan menghadapi tentangan golongan Tamil Islam di bawah pimpinan Tun Ali. Sultan Sri Parameswara Dewa Syah hanya memerintah dua tahun saja. Ia berhasil dibunuh oleh raja Kassim, yang dicalonkan sebagai sultan Malaka oleh golongan Tamil Islam.

 Raja Kasim yang bergelar Sultan Muzaffar Syah (1446-1459). Ia berhasil menguasai Pahang dan Indragiri. Kedudukan Malaka semakin kuat dan strategis sehingga berhasil menggeser kedudukan Samudera Pasai.

Pengganti Sultan Muzaffar Syah adalah putranya yang bernama Sultan Mansyur Syah (1459-1477). Pada saat itu, angkatan laut Malaka sangat kuat di bawah pimpinan Laksamana Hang Tuah sehingga Malaka tampil sebagai kerajaan maritim yang sangat tangguh.

      Gambar: Makam Hang Tuah.

Malaka mengembangkan pemerintahan yang cukup teratur dengan sultan sebagai penguasa tertinggi. Di bawah sultan ada patih yang disebut Paduka Raja yang membawahi para pejabat-pejabat, seperti bendahara, laksamana, tumenggung/bupati, dan syahbandar.

Setelah pemerintahan Sultan Mansyur Syah berakhir, pemerintahan digantikan oleh Sultan Alauddin Ri’ayat Syah (1477-1488). Pada masa pemerintahannya, Malaya dipersatukan di bawah pemerintahan Malaka, dan selat Malaka sepenuhnya dikuasai oleh kota pelabuhan Malaka. Negara-negara di pantai Timur Sumatera tunduk kepada Malaka. Kota pelabuhannya sepi, karena kapal-kapal dagang yang berlayar di selat Malaka semuanya melalui kota pelabuhan Malaka. Itulah masa kegemilangan Malaka. Puncak kejayaan telah tercapai pada masa pemerintahan Alauddin Ri’ayat Syah. 

Setelah itu pemerintahan dipegang oleh Sultan Mahmud Syah (1488-1528). Kerajaan Malaka pada masa Sultan Mahmud Syah ternyata mengalami kemunduran dan kebesaran Malaka makin lama  makin surut. Keadaan diperburuk dengan kedatangan Portugis di bandar Malaka. Semula kedatangan Portugis hanya berdagang rempah, tetapi kemudian ingin meguasai Malaka. Pada akhir tahun1528, Portugis dipimpin oleh Alfonso d’Albaquerque berhasil menduduki Malaka.

 Jatuhnya kekuasaan Islam di Malaka mengakibatkan pedagang Islam menyingkir dan menyebar keberbagai daerah. Pedagang Islam mengalihkan kegiatan perdagangannya ke Jawa, Sumatera, Kalimantan, bahkan ada yang sampai ke Filipina Selatan.

Gambar: Gerbang bekas benteng Portugis di Malaka.

 

·         Kehidupan Keagamaan

Disamping Malaka maju dalam bidang ekonomi, bidang keagamaan tidak kalah. Dengan majunya Malaka, banyak alim-ulama datang dan ikut mengembangkan agama Islam di kota ini. Penguasa dengan besar hati. Meskipun penguasa belum memeluk agama Islam, namun pada abad ke-15 mereka telah mengizinkan agama Islam berkembang di Malaka. Penganut-penganut agama Islam diberi hak-hak istimewa bahkan untuk mereka telah dibangun sebuah masjid (Poesponegoro & Notosusnto, 1993:31).   

Berdasarkan pendapat para ahli mengenai golongan-golongan pembawa agama Islam ke Indonesia adalah menunjukkan persamaan. Sesuai dengan kedatangan Islam yaitu melalui jalan perdagangan, maka pembawa-pembawanya ialah golongan pedagang muslim dari Arab, Persia, dan India (Gujarat, Benggala).

 

·         Kehidupan Kebudayaan

Pada kehidupan budaya, perkembangan seni sastra Melayu mengalami perkembangan yang pesat seperti munculnya karya-karya sastra yang menggambarkan tokoh-tokoh kepahlawanan dari Kerajaan Malaka seperti Hikayat Hang Tuah, Hikayat Hang Lekir dan Hikayat Hang Jebat.

 Kesusastraan Malaka (1400-1511) merupakan kelanjutan dari kesusastraan Melayu-Singapura dan kesusastraan Pasai. Kesusastraan agama tidak begitu penting seperti di Pasai. Seperti juga di Pasai, ada ulama-ulama asing di istana Malaka, tetapi peranan ulama ini tidak sebesar peranan ulama di Pasai. Di Malaka juga terdapat pusat pendidikan Islam, tetapi karena pemerintah Malaka tidak bertahan lama, bidang ini tidak dapat mengimbangi Pasai. Messkipun demikian, penyebaran agama Islam terus dilanjutkan dari Malaka.

Pengaruh masyarakat Jawa juga sangat kuat di Malaka. Hikayat Jawa dimelayukan dan dikembangkan. Yang dimaksud dengan hikayat Jawa adalah cerita-cerita Panji, misalnya Hikayat Panji Kuda Semirang, Hikayat Cekel Waningpati, dan Hikayat Misa Gumitar (Paeni, 2009: 85)

KESIMPULAN

 

Agama Islam berkembang mengikuti jalur pelayaran dan perdagangan. Maka seiring dengan perkembangan agama Islam berkembang pula secara luas pelayaran dan perdagangan laut bangsa Indonesia. Jalur pelayaran dan perdagangan internasional yang sudah ada sejak kuno, antara Cina, Indonesia (Selat Malaka), India, Asia Barat dan sebaliknya kini kian bertambah ramai (Daliman, 2012: 6). Pada tahun 1414, raja Muar yang bernama Parameswara dan beristrikan putri dari Pasai, atas bujukan sang permaisuri, masuk agama Islam dan bergelar Megat Iskandar Syah. Peristiwa tesebut memberikan dorongan yang terlalu kuat persebaran agama Islam di kalangan rakyat Malaka khususnya, dan di kalangan penduduk pedalaman Malaya pada umumnya. Para pedagang yang datang dari negara-negara di pantai Laut Selatan dan Tiongkok, serta para pedagang yang datang dari Indonesia, menyaksikan agama Islam berkembang dan tumbuh sangat cepat di kota pelabuhan Malaka. Sultan Malaka memberi kesempatan kepada para pedagang asing untuk membuka perwakilan dagang di kota Malaka. Dengan sendirinya, pedagang-pedagang yang membuka perwakilan dagang itu mengirim orang-orang tertentu untuk menetap di kota Malaka. Mereka, kecuali menjalankan dagang untuk memperoleh keuntungan, juga mengenal dari dekat cara hidup orang-orang muslim di Malaka. Yang mempunyai minat minat mendapat kesempatan untuk mempelajari agama Islam dan kemudian memeluknya.

 

SARAN

Dengan adanya sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Hal yang terpenting sebaiknya para pemimpin bangsa supaya harus mempunyai jiwa kepemimpinan yang Islami dan tangguh dalam menghadapi masalah.Dan juga para generasi penerus bangsa (pemuda) untuk selalu menamkan nilai-nilai-nilai yang baik.                                                             

                                                   

 

DAFTAR RUJUKAN

 

R.P. Soedjono & R.Z. Leirissa. 2010. Sejarah Nasional Indonesia III: Zaman Pertumbuhan  dan Perkembangan Kerajaan Islam di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Poesponegoro, M.D & Notosusanto, N. 1993. Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta: Balai Pustaka.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2012. Indonesia dalam Arus Sejarah: Kedatangan dan Peradaban Islam. Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve.

 

Muljana, Slamet. 2005. Runtuhnya Kerajaan Hindu - Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara. Yogyakarta: PT Lkis Pelangi Aksara

 

Daliman, A. 2012. Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia: Ombak.

 

Paeni, M. 2009. Sejarah Kebudayaan Indonesia: Bahasa, Sastra, dan Aksara. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Lanjutan Bab 2 : Ilmu Sejarah