SEJARAH KERAJAAN MALAKA
(Oleh: Fatkhur Roji, S.Pd)
Proses Masuk dan Perkembangan Agama Islam di
Malaka.
A. Golongan Pembawa Agama Islam di Indonesia.
Islam masuk ke Indonesia akibat adanya perdagangan dan pelayaran
internasional. Pada saat itu, jalur perdagangan internasional Timur
Tengah-India-Malaka-Cina merupakan satu-satunya jalur perdagangan Asia yang
sangat ramai. Bersamaan dengan kesibukan perdagangan antar bangsa yang melewati
Indonesia itulah, Islam masuk ke Indonesia.

Gambar : Pusat perdagangan
abad ke-15
Keterangan gambar di atas yaitu:
I : Malaka
IV : Demak
II : Samudera Pasai V :
Banjar
III : Banten VI : Makassar
Islam masuk ke Indonesia ketika sebagian masyarakatnya sudah memeluk agama
Hindu atau Buddha, atau saat masyarakat masih memeluk kepercayaan asli, atau
bahkan saat Hindu-Buddha, dan kepercayaan asli bercampur saling mempengaruhi.
Namun yang jelas, Islam datang setelah Hindu dan Buddha masuk ke Indonesia
terlebih dahulu. Penyebaran pengaruh Islam yang berasal dari jazirah Arab ke
Asia dan benua lainnya, menimbulkan pusat-pusat agama Islam di kawasan tersebut,
yang berperan sebagai pusat pemerintahan dan peradaban, juga berperan dalam
penyebaran pengaruh Islam ke wilayah sekitarnya.
Sebagian para ahli berpendapat bahwa
kedatangan Islam pertama-tama ke Indonesia sudah sejak abad pertama Hijriyah
atau abad ke-7 Masehi, dan sebagian para ahli berpendapat bahwa Islam baru
datang pada abad ke-13 terutama kerajaan Samudra Pasai (Soedjono &
Leirissa, 2010: 161).
Ahli-ahli yang berpendapat pada abad ke-7 M, terutama berdasarkan teorinya
berdasarkan pada berita Cina dari zaman T’-ang yang menceritakan adanya
orang-orang Ta-shih yang mengurungkan niatnya untuk menyerang kerajaan Ho-ling
di bawah pemerintahan Ratu Sima (674), karena pemerintahan Ho-ling itu sangat
keras. Sebutan “Ta-shih” dalam berita itu ditafsirkan sebagai orang-orang Arab.
Sebagian ahli berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13
itu didasarkan pada dugaan akibat keruntuhan Dinasti Abbasiyah oleh Hulagu pada
tahun 1258. Pendapat ini diperkuat oleh bukti berita Marco Polo pada tahun 1292,
berita Ibn Battutah abad ke-14, serta nisan-nisan kubur Sultan Malik as Saleh
tahun 1297. Di antara ahli-ahli itu ada juga yang berpendapat bahwa kedatangan
Islam hingga terbentuknya masyarakat muslim di Indonesia pada abad ke-13
disebabkan oleh masa arus penyebaran dan kedatangan ajaran tasawuf.
Pendapat para ahli tentang negeri asal serta golongan-golongan masyarakat
muslim yang memperkenalkan agama Islam kepada bangsa Indonesia itu juga
berbeda-beda. Ahli-ahli yang memberikan tafsiran Ta-shih seperti dikatakan
dalam berita Cina pada abad ke-7, adalah orang-orang Arab. Akan tetapi,
sebagian ahli diantaranya C. Snouck Hurgronje berpendapat bahwa orang-orang
Islam yang datang dan menyebarkan agamanya pertama-tama di Indonesia tidak
langsung berasal dari negeri Arab. Mereka adalah orang-orang Islam dari Gujarat
(India). Bukti-bukti hubungan langsung antara Indonesia dengan Arab baru
terjadi kemudian, contohnya hubungan utusan dari Mataram dan Banten ke Mekkah
pada pertengahan abad ke-17.
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut di atas jelaslah bahwa tidak mudah
untuk memastikan bila dan dari mana pembawa pertama-tama Islam ke Indonesia
antara abad ke-7 sampai abad ke-13 adalah orang muslim dari Arab, Persia, dan
India (Gujarat, Benggala) (Soedjono & Leirissa, 2010: 164).
B. Proses Masuknya dan Perkembangan Agama Islam di
Malaka.
Agama Islam berkembang
mengikuti jalur pelayaran dan perdagangan. Maka seiring dengan perkembangan
agama Islam berkembang pula secara luas pelayaran dan perdagangan laut bangsa
Indonesia. Jalur pelayaran dan perdagangan internasional yang sudah ada sejak
kuno, antara Cina, Indonesia (Selat Malaka), India, Asia Barat dan sebaliknya
kini kian bertambah ramai (Daliman, 2012: 6).

Gambar : Keadaan perdagangan dan pelayaran kerajaan Malaka.
Malaka dikenal sebagai pintu gerbang Nusantara. Sebutan ini diberikan
mengingat peranannya sebagai jalan lalulintas bagi pedagang-pedagang asing yang
berhak masuk dan keluar pelabuhan-pelabuhan Indonesia. Letak geografis Malaka sangat
menguntungkan, yang menjadi jalan silang antara Asia Timur dan Asia Barat.
Dengan letak geografis yang demikian membuat Malaka menjadi kerajaan yang
berpengaruh atas daerahnya. Setelah Malaka menjadi kerajaan Islam, para
pedagang, mubaligh, dan guru sufi dari negeri Timur Tengah dan India makin
ramai mendatangi kota Bandar Malaka. Dari bandar ini, Islam di bawa ke pattani
dan tempat lainnya di semenanjung seperti Pahang, Johor dan perlak.
Pada tahun 1414, raja Muar yang bernama Parameswara dan beristrikan putri
dari Pasai, atas bujukan sang permaisuri, masuk agama Islam dan bergelar Megat
Iskandar Syah. Peristiwa tesebut memberikan dorongan yang terlalu kuat
persebaran agama Islam di kalangan rakyat Malaka khususnya, dan di kalangan
penduduk pedalaman Malaya pada umumnya. Para pedagang yang datang dari
negara-negara di pantai Laut Selatan dan Tiongkok, serta para pedagang yang
datang dari Indonesia, menyaksikan agam Islam berkembnag dan tumbuh sangat
cepat di kota pelabuhan Malaka. Perkenalan mereka dengan agama Islam di Malaka
sangat intensif. Kota pelabuhan Malaka menjadi kota dagang Islam di Asia
Tenggara.
Sebagai kota dagang yang ramai di kunjungi oleh para pedagang asing, kota
pelabuhan Malaka memberi kesempatan kepada para pedagang asing untuk membuka
perwakilan dagang di kota Malaka. Dengan sendirinya, pedagang-pedagang yang
membuka perwakilan dagang itu mengirim orang-orang tertentu untuk menetap di
kota Malaka. Mereka, kecuali menjalankan dagang untuk memperoleh keuntungan,
juga mengenal dari dekat cara hidup orang-orang muslim di Malaka. Yang
mempunyai minat minat mendapat kesempatan untuk mempelajari agama Islam dan
kemudian memeluknya.
Raja dan para pembesar Malaka suka agar saudagar-saudagar asing itu menetap
di kota pelabuhan, karena kesejahteraan negara Malaka banyak bergantung pada
perdagangan yang mereka lakukan. Adanya perwakilan dagang asing meningkatkan
kegiatan dagang. Banyak diantara para anggota perwakilan dagang itu yang lalu
kawin dengan wanita-wanita Islam Malaka, baik keturunan pembesar maupun
keturunan para pedagang dan rakyat biasa.
Karena bujukan istri, tidak jarang pula di antara mereka yang melepaskan
agama Hindu, masuk Islam. Akibatnya, banyak di antara mereka yang terus menetap
di kota pelabuhan Malaka. Perkawinan dengan wanita-wanita Islam di Malaka
kadang-kadang juga tidak sepi dari pamrih. Akibat perkawinan denga wanita-wanita
Islam setempat, para anggota perwakilan dagang asing itu memperoleh
fasilitas-fasilitas yang menguntungkan.
Parameswara pada hakikatnya adalah raja Malaka yang berjasa besar dalam
kesejahteraan Malaka karena pembangunan bandar malaka, dan dalam penyebaran
agama Islam madzhab Syafi’i, karena Parameswara adalah sultan pertama di Malaya
yang memeluk agama Islam madzhab Syaf’i berkat perkawinanya dengan putri Pasai
(Muljana, 2005: 149).
Gambar : Peta penyebaran Agama Islam.
Kehidupan Masyarakat Kerajaan Malaka.
Sumber sejarah kerajaan Malaka tidak banyak memberikan informasi
mengenai aspek-aspek kehidupan masyarakatnya. Namun beberapa aspek kehidupan
masyarakatnya diceritakan dalam berita-berita Cina maupun temuan arkeologinya
yang ditemukan.
·
Kehidupan Sosial
Kehidupan sosial Kerajaan Malaka dipengaruhi
oleh faktor letak, keadaan alam dan lingkungan wilayahnya yang strategis. Sebagai masyarakat yang hidup dari dunia maritim, hubungan sosial
masyarakatnya sangatlah kurang dan bahkan mereka cenderung mengarah ke
sifat-sifat individualisme. Kelompok masyarakat pun bermunculan, seperti adanya
golongan buruh dan majikan.
·
Kehidupan Ekonomi
Dalam kehidupan ekonomi
masyarakat Malaka adalah melakukan pelayaran dan perdagangan. Seperti di jelaskan
bahwa Malaka, pada akhir abad ke-15 dikunjungi
oleh para saudagar yang datang dari Arab, India, Asia Tenggara dan
saudagar-saudagar Indonesia. Pada waktu itu daerah ini merupakan pusat
perdagangan di Asia (Poesponegoro & Notosusanto, 1993:29).
Malaka memungut pajak
penjualan, bea cukai barang-barang yang masuk dan keluar, yang banyak memasukkan uang ke kas negara. Sementara
itu, raja maupun pejabat-pejabat penting memperoleh upeti atau persembahan dari
pedagang yang dapat menjadikan mereka sangat kaya.
Sultan Alauddin Syah
dikatakan mempunyai harta yang ditaksir sama dengan 140 kuintal emas (8.824
kg). Mansyur Syah, menurut perkiraan Tome’ Pires, memiliki 120 kuintal ditambah
dengan sejumlah besar intan berlian dan ratna-mutu-manikam (Soedjono & Leirissa,
2010:121).
Hikayat-hikayat kuno
memuji-muji kekayaan raja. Misalnya, pakaian raja katanya terdiri dari :
“... Serawal berantelas
dengan air mas, berumbaikan mutiara dan permata merah, berkain ungu bertepi
merah, berair mas dipahat, bersirat benang-mas, bertatah pudi menikam; ikat
pinggang bersuji emas diragam dan berbaju antakesuma dan destar bertepi bunga
sirih mas dipahat awan berarak...”
Suatu hal yang penting dari Kerajaan Malaka adalah adanya undang-undang
laut yang berisi pengaturan pelayaran dan perdagangan di wilayah kerajaan.
Untuk mempermudah terjalinnya komunikasi antar pedagang maka bahasa Melayu
(Kwu-lun) dijadikan sebagai bahasa perantara.
·
Kehidupan Politik
Dalam menjalankan dan menyelenggarakan politik negara, ternyata para sultan
menganut paham politik hidup berdampingan secara damai (co-existence policy)
yang dijalankan secara efektif. Politik hidup berdampingan secara damai
dilakukan melalui hubungan diplomatik dan ikatan perkawinan. Politik ini
dilakukan untuk menjaga keamanan internal dan eksternal Malaka.
Dua kerajaan besar pada waktu itu yang harus diwaspadai adalah Cina dan
Majapahit. Maka, Malaka kemudian menjalin hubungan damai dengan kedua kerajaan besar
ini. Raja pertama kerajaan
Malaka adalah Sultan Parameswara (Megat Iskandar Syah) (1402-1424). Ia menjalankan politik bertetangga baik dengan kerajaan di sekitarnya. Ia menjalin hubungan dengan Cina dan
Samudera Pasai. Hubungan dengan Samudera Pasai semakin erat sebab Sultan
Parameswara menikah dengan kerajaan tersebut.
Setelah beliau wafat
pada tahun 1424, digantikan Muhammad Syah (1424-1444). Untuk pertama kalinya,
sultan Malaka yang beragama Islam mengambil gelar “Sri Maharaja”. Pemakaian
gelar itu didasarkan atas pengakuan bahwa Muhammad Syah ialah keturunan Balaputradewa.
Setelah pemerintahan Muhammad Syah berakhir, dilanjutkan oleh putra Sri
Maharaja Muhammad Syah, yang lahir dari putri Rokan dia adalah Sultan Sri
Parameswara Dewa Syah (1444-1446) dan tidak bertahan menghadapi tentangan
golongan Tamil Islam di bawah pimpinan Tun Ali. Sultan Sri Parameswara Dewa
Syah hanya memerintah dua tahun saja. Ia berhasil dibunuh oleh raja Kassim,
yang dicalonkan sebagai sultan Malaka oleh golongan Tamil Islam.
Raja Kasim yang bergelar Sultan Muzaffar Syah
(1446-1459). Ia berhasil menguasai Pahang dan Indragiri. Kedudukan Malaka
semakin kuat dan strategis sehingga berhasil menggeser kedudukan Samudera
Pasai.
Pengganti Sultan
Muzaffar Syah adalah putranya yang bernama Sultan Mansyur Syah (1459-1477).
Pada saat itu, angkatan laut Malaka sangat kuat di bawah pimpinan Laksamana
Hang Tuah sehingga Malaka tampil sebagai kerajaan maritim yang sangat tangguh.

Gambar: Makam Hang Tuah.
Malaka mengembangkan
pemerintahan yang cukup teratur dengan sultan sebagai penguasa tertinggi. Di
bawah sultan ada patih yang disebut Paduka Raja yang membawahi para
pejabat-pejabat, seperti bendahara, laksamana, tumenggung/bupati, dan
syahbandar.
Setelah pemerintahan
Sultan Mansyur Syah berakhir, pemerintahan digantikan oleh Sultan Alauddin
Ri’ayat Syah (1477-1488). Pada masa pemerintahannya, Malaya dipersatukan di
bawah pemerintahan Malaka, dan selat Malaka sepenuhnya dikuasai oleh kota
pelabuhan Malaka. Negara-negara di pantai Timur Sumatera tunduk kepada Malaka.
Kota pelabuhannya sepi, karena kapal-kapal dagang yang berlayar di selat Malaka
semuanya melalui kota pelabuhan Malaka. Itulah masa kegemilangan Malaka. Puncak
kejayaan telah tercapai pada masa pemerintahan Alauddin Ri’ayat Syah.
Setelah itu
pemerintahan dipegang oleh Sultan Mahmud Syah (1488-1528). Kerajaan Malaka pada
masa Sultan Mahmud Syah ternyata mengalami kemunduran dan kebesaran Malaka
makin lama makin surut. Keadaan
diperburuk dengan kedatangan Portugis di bandar Malaka. Semula kedatangan
Portugis hanya berdagang rempah, tetapi kemudian ingin meguasai Malaka. Pada
akhir tahun1528, Portugis dipimpin oleh Alfonso d’Albaquerque berhasil
menduduki Malaka.

Jatuhnya kekuasaan Islam di Malaka
mengakibatkan pedagang Islam menyingkir dan menyebar keberbagai daerah.
Pedagang Islam mengalihkan kegiatan perdagangannya ke Jawa, Sumatera,
Kalimantan, bahkan ada yang sampai ke Filipina Selatan.

Gambar: Gerbang bekas benteng Portugis di Malaka.
·
Kehidupan Keagamaan
Disamping Malaka maju
dalam bidang ekonomi, bidang keagamaan tidak kalah. Dengan majunya Malaka,
banyak alim-ulama datang dan ikut mengembangkan agama Islam di kota ini.
Penguasa dengan besar hati. Meskipun penguasa belum memeluk agama Islam, namun
pada abad ke-15 mereka telah mengizinkan agama Islam berkembang di Malaka.
Penganut-penganut agama Islam diberi hak-hak istimewa bahkan untuk mereka telah
dibangun sebuah masjid (Poesponegoro & Notosusnto, 1993:31).
Berdasarkan pendapat
para ahli mengenai golongan-golongan pembawa agama Islam ke Indonesia adalah
menunjukkan persamaan. Sesuai dengan kedatangan Islam yaitu melalui jalan
perdagangan, maka pembawa-pembawanya ialah golongan pedagang muslim dari Arab,
Persia, dan India (Gujarat, Benggala).
·
Kehidupan Kebudayaan
Pada kehidupan budaya,
perkembangan seni sastra Melayu mengalami perkembangan yang pesat seperti
munculnya karya-karya sastra yang menggambarkan tokoh-tokoh kepahlawanan dari
Kerajaan Malaka seperti Hikayat Hang Tuah, Hikayat Hang Lekir dan Hikayat Hang
Jebat.
Kesusastraan
Malaka (1400-1511) merupakan kelanjutan dari kesusastraan Melayu-Singapura dan
kesusastraan Pasai. Kesusastraan agama tidak begitu penting seperti di Pasai.
Seperti juga di Pasai, ada ulama-ulama asing di istana Malaka, tetapi peranan
ulama ini tidak sebesar peranan ulama di Pasai. Di Malaka juga terdapat pusat
pendidikan Islam, tetapi karena pemerintah Malaka tidak bertahan lama, bidang
ini tidak dapat mengimbangi Pasai. Messkipun demikian, penyebaran agama Islam
terus dilanjutkan dari Malaka.
Pengaruh
masyarakat Jawa juga sangat kuat di Malaka. Hikayat Jawa dimelayukan dan
dikembangkan. Yang dimaksud dengan hikayat Jawa adalah cerita-cerita Panji,
misalnya Hikayat Panji Kuda Semirang, Hikayat Cekel Waningpati, dan Hikayat
Misa Gumitar (Paeni, 2009: 85).
KESIMPULAN
Agama Islam berkembang mengikuti jalur pelayaran dan perdagangan. Maka
seiring dengan perkembangan agama Islam berkembang pula secara luas pelayaran
dan perdagangan laut bangsa Indonesia. Jalur pelayaran dan perdagangan
internasional yang sudah ada sejak kuno, antara Cina, Indonesia (Selat Malaka),
India, Asia Barat dan sebaliknya kini kian bertambah ramai (Daliman, 2012: 6).
Pada tahun 1414, raja Muar yang bernama Parameswara dan beristrikan putri dari
Pasai, atas bujukan sang permaisuri, masuk agama Islam dan bergelar Megat
Iskandar Syah. Peristiwa tesebut memberikan dorongan yang terlalu kuat
persebaran agama Islam di kalangan rakyat Malaka khususnya, dan di kalangan
penduduk pedalaman Malaya pada umumnya. Para pedagang yang datang dari
negara-negara di pantai Laut Selatan dan Tiongkok, serta para pedagang yang
datang dari Indonesia, menyaksikan agama Islam berkembang dan tumbuh sangat
cepat di kota pelabuhan Malaka. Sultan Malaka memberi kesempatan kepada para
pedagang asing untuk membuka perwakilan dagang di kota Malaka. Dengan
sendirinya, pedagang-pedagang yang membuka perwakilan dagang itu mengirim
orang-orang tertentu untuk menetap di kota Malaka. Mereka, kecuali menjalankan
dagang untuk memperoleh keuntungan, juga mengenal dari dekat cara hidup orang-orang
muslim di Malaka. Yang mempunyai minat minat mendapat kesempatan untuk
mempelajari agama Islam dan kemudian memeluknya.
SARAN
Dengan
adanya sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Hal yang terpenting
sebaiknya para pemimpin bangsa supaya harus mempunyai jiwa kepemimpinan yang
Islami dan tangguh dalam menghadapi masalah.Dan juga para generasi penerus
bangsa (pemuda) untuk selalu menamkan nilai-nilai-nilai yang baik.
DAFTAR RUJUKAN
R.P. Soedjono & R.Z. Leirissa.
2010. Sejarah Nasional Indonesia III: Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan Islam di Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka.
Poesponegoro, M.D & Notosusanto, N. 1993. Sejarah
Nasional Indonesia III. Jakarta: Balai Pustaka.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2012. Indonesia
dalam Arus Sejarah: Kedatangan dan Peradaban Islam. Jakarta: PT Ichtiar
Baru van Hoeve.
Muljana, Slamet. 2005. Runtuhnya Kerajaan Hindu - Jawa dan
Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara. Yogyakarta: PT Lkis Pelangi
Aksara
Daliman, A. 2012. Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan
Islam di Indonesia: Ombak.
Paeni, M. 2009. Sejarah Kebudayaan Indonesia: Bahasa, Sastra,
dan Aksara. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar